Beachcamp, menikmati kesyahduan dan kealamian di pantai Sedahan Gunungkidul

Pantai Sedahan, Gunungkidul
Pantai Sedahan, Gunungkidul

Subhanallaah, Alhamdulillaah, Allaahu akbar…

“Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (QS Luqman: 27)

Pada waktu yang lalu, tepatnya hari Selasa-Rabu, tanggal 17-18 September 2013, saya dan teman-teman yang selama ini membersamai agenda main-main ke Semeru, Lawu, Merbabu (semuanya berakhiran huruf “U” yang tak terlupakan selalu) yaitu JAVENTURE (ciyeee, baru nongol sekarang) rihlah ke 0 mdpl, tepatnya di Pantai Sedahan Gunungkidul, yang bisa dibilang pantai ini belum banyak orang tahu, masih syahdu di malam hari, masih alami dan masih bersih, akan tetapi butuh perjuangan untuk mencapai ke lokasi yang bak surga pribadi itu (lebay, jangan mudah percaya, karena anda harus mengalaminya sendiri *malu*). Nah, agenda ke pantai ini mungkin menjadi akhir kebersamaan kami di Jogja (jangan dooonk) sebelum mereka “makaryo” (bekerja) di lokasi penempatan/magang masing” (Jakarta, dsb). Selain rihlah bertajuk beachcamp di Pantai Sedahan ini, kami juga memliki misi operasi semut, yaitu “resik-resik pantai” (bersih-bersih pantai). Nah, kagetnya…. pantainya masih begitu bersih, sampah hampir tidak ada, hanya sampah-sampah yang kami hasilkan. Subhanallaah. Pantai seperti ini nih yang masih asri, perlu kita jaga kelestarian dan kebersihannya. Jangan sampai rusak karena tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab. So, tidak hanya ketika kita berada di gunung saja, jikalau kita ada agenda di pantai, bawalah trash bag atau selainnya, yang berguna untuk membawa pulang sampah-sampah yang kita hasilkan. Sedikit action dari kita, dapat menyelamatkan ekosistem laut lho. Ihwaaaw

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)” (QS Ar Ruum : 41)

Hiksss. Sebelum menceritakan inti agenda main-main ke pantainya, ada cerita pembuka yang tidak kalah seru, di bawah ini, silahkan disimak… jika kurang jelas, yaaa ndak papa, selow aja 😀

Ceritanya berawal seperti ini…. agak masam memang, fiuh….

Siang itu, di sebuah rumah di dusun Karangtritis, Sumberwungu, Tepus, Gunungkidul, saya terus melihat ke arah ponsel. Ponsel saya ada 2, yang satu saya manfaatkan untuk socmed dan yang satunya saya isi dengan provider “sinyal kuat” (tapi ternyata saat itu minim sinyal) untuk keperluan telpon dan SMS. Nah, kala itu saya sedang menanti komunikasi dengan teman” main JAVENTURE untuk ke tempat beachcamp. Berbagai pertanyaan sudah mulai bermunculan… Sudah jam berapa ini? Adakah SMS yang masuk?  MasyaAllah, pulsanya habis! Sinyalnya pun timbul tenggelam. Jadilah saya meminta pulsa kepada mas Aziz yang duduk di sebelah saya selagi Jundi mengobrol serius dengan bapak takmir masjid. Mohon maaf, saat itu pikiran saya sudah tidak bisa fokus lagi selama jam-jam terakhir dalam rangkaian survey tempat untuk baksos Qurban FSRMY 1434 H. Alhamdulillaah deh, dusun ini adalah tempat terakhir yang kami kunjungi 😀 ahihi…

Tereret…. suara ponsel berdering tanda  ada SMS masuk, yang inti dari isi SMSnya bahwa pukul 16.00 WIB ketemuan dengan teman saya di Kecamatan Tepus untuk menuju ke lokasi bersama-sama.
Saat itu saya masih berada di lokasi survey sekitar sebelum Ashar. Kemudian saya balas OK!! Nah karena masih ada waktu yang tersisa, dan keadaan perut yang berorkestra sedari tadi, jadilah kami mencari tempat makan usai survey di desa terakhir tersebut. Lokasi tempat makan memang belum ditentukan, mengikuti jalan menuju ke pantai saja laaah 😀 Ehh, tiba-tiba di papan penunjuk jalan, ada pantai menarik yang belum kami kunjungi, yaitu Pok Tunggal. Pada akhirnya kami putuskan mengunjunginya dan sekalian mencari tempat makan. Wuih, Subhanallah jalan menuju kesana cukup terjal (maksudnya belum di aspal sempurna, masih setengah-setengah, tapi dominan berbatunya). Sesampainya disana, mencari tempat makan dan menemukan satu yang ternyata harus menunggu cukup lama. Keadaan hati mulai harap-harap cemas menjelang jam 16.00 karena makanan belum jadi. Tetiba ada SMS masuk (sinyal masih pasang surut), dari teman yang tadi mau ketemu di kecamatan, agar menyarankan untuk menyusul langsung saja ke Pantai Wediombo (lokasinya dekat-dekat situ lah ya katanya). Begitu membaca SMS, langsung saya balas, OKE SIAPPP… nah tapi tapi…. tidak terkirim. Mulai panik. Menit demi menit berlalu, dan makanan yang dipesan dari sebelum jam 16.00 tadi baru jadi jam 16.45. Sabaaar…. Masih mencemaskan teman saya yang tadi SMS, apakah sudah berangkat duluan ataukah masih menanti saya di kecamatan? Makan pun serasa tak nyaman 😦

Pukul 17.15 kami sudah selesai menikmati hidangan (yang menurut saya agak aneh rasanya, seafood, tetapi nampaknya sudah tidak segar dan harganya mahal, Astaghfirullaah). Langsung deh meninggalkan pantai Pok Tunggal yang sore itu cukup terik dan menyengat, rawrrr. Nah, Aziz dan Jundi yang baik hati bersedia mengantarkan saya menuju lokasi beachcamp di dekat Pantai Wediombo (pantai yang cukup jauh di Gunungkidul) waaah…
Melewati jalan yang berliuk-liuk naik dan turun, kami memacu kendaraan yang hampir “sakpol e” karena hari mulai petang dan hampir masuk waktu Maghrib. Sekitar 30 menit perjalanan naik sepeda motor dari Pok Tunggal, Alhamdulillaah pada pukul 18.00 sudah sampai di lokasi (eh belum, masih di Wediombo…. dan kata petugas jaga parkir, Pantai Sedahan masih nun jauh disana yang hanya bisa dicapai dengan berjalan kaki kurang lebih 1-2 Km…. Subhanallaah gelap-gelap seperti ini, benar-benar tidak ada persiapan senter maupun headlamp sama sekali 😦 ) Mulai panik yang kedua kalinya, karena tidak ditemui seorangpun teman atau minimal kenalan saya. Tapi tiba-tiba, Jundi bilang kalau tadi dia melihat teman saya seangkatan yang duduk di pinggir jalan, dan ketika kendaraan kami lewat, mereka langsung berdiri (oya, posisi tempat parkir kami ada di penitipan motor di Pantai Wediombo, lokasinya agak menurun) Jundi menyarankan untuk naik ke atas dulu, memastikan bahwa itu teman saya atau bukan. Ide yang bagus, mari kita coba. Jalanan yang menanjak ke atas, tanpa penerangan, dan hanya ditemani suara gemuruh riuh ombak, kami putuskan pergi ke atas. Eee, benar adanya, ada anak-anak putra yang duduk di pinggir jalan, mereka membawa senter. Semakin mendekat, semakin jelas, dan setitik senyuman muncul di sudut bibir saya. Inilah Roshid, Panji, (teman seangkatan SMA, anak STAN) dan Wahyu (baru kenal, ternyata STAN juga). Alhamdulillaah, di tempat asing seperti ini, ada yang masih standby di pinggir jalan, dan mereka adalah teman-teman saya.
Beberapa saat kemudian setelah menghela nafas, saya tanyakan kepada mereka, kemanakah yang lainnya? Jawabannya ada dua. Pertama, sudah ada yang mendahului berangkat ke lokasi untuk mendirikan tenda. Dan kedua…. masih ada yang belum datang dua orang, yaitu Dian dan Much. Seketika itu juga, senyuman dari bibir saya pun kembali meredup. Flashback kepada SMS balasan yang tidak sempat terkirim tadi, muncullah kerisauan saya yang tertuju kepada mereka yang masih berada di Kecamatan. Harus apa dan bagaimana, inginnya SMS tetapi benar-benar block out, tanpa sinyal segaris pun muncul di ponsel. Yaa Allaah, hamba hanya bisa berdoa semoga mereka baik-baik saja. Astaghfirullaah hamba mohon ampun atas miscommunication ini….
Ting, satu ide muncul…. karena Aziz dan Jundi tidak ikut mabit malam ini karena ada agenda sehingga harus bertolak ke kota Jogja (pulang ke rumah), maka saya minta tolong kepada mereka untuk menyusul ke kecamatan dan mengabari bahwa saya sudah berada disini. Oke, misi dijalankan…. dan hati-hati di jalan menuju Jogja ya….
Menunggu dan terus menunggu bersama, berharap ada kabar baik dengan segera datangnya Dian dan Much. Malam itu, ditemani angin laut yang berhembus ke daratan, langit yang cukup mendung, suasana yang gelap tiada penerangan dan suara debur ombak yang gemuruh, kami pun mengobrol dengan topik “apa saja” untuk menghangatkan dan me-refresh-kan suasana. Hampir pukul 19.00 WIB, kendaraan bermotor sudah tidak ada yang lewat (untuk parkir ke bawah) zzzing, mulai sepi sekali. Dan pada akhirnya, yang dinantikan datang mengendari motor agak gedhe (lupa) dengan sorot lampu yang menyialukan. Aaak, begitu mereka sampai, mereka bilang akan “mengethak saya”  (memukul di bag, kepala) karena adanya insiden tadi. Kata-kata maaf, ribuan kali saya lontarkan dari mulut saya (lebayyy dink), benar-benar merasa saya yang salah. Dan pada kenyataannya, ternyata mereka juga mencari saya di tempat yang tadi siang saya survey, yaitu di daerah Wunut, dkk. Hyaaa, tambah deh nyesek merasa bersalahnya…. huaaa, maaf….
Saya tahu, kedua teman saya itu orangnya pemaaf kok (beneran deh, sambil kedip-kedip, hushhh) dan akhirnya mereka memaafkan saya Alhamdulillaah meski masih kesal” nampaknya…. ups
Perjalanan malam pun dimulai menuju Pantai Sedahan. Dari Pantai Wediombo ke Pantai Sedahan kami targetkan 60 menit dengan berjalan kaki. Sip. Tantangan diterima. Kami terus berjalan tanpa berhenti, dan kami sampai di pantai dengan durasi perjalanan 60 menit kurang sedikit. Yaaay. Alhamdulillaah.

Nah ini ada beberapa dokumentasi teman-teman pendahulu yang menuju ke lokasi. Personilnya ada 8 orang dan hampir semuanya anak STAN, yaitu Alfian, Anom, mbak Endah, mbak Lulut, mbak Naris, mbak Putri (embak-embak STIS), Satya, dan Sifit. Tugas mereka adalah (entah memang sudah ditugaskan atau keseadaran mereka sendiri) mencari kayu bakar untuk api unggun, mendirikan tenda dan memasak (tapi yang terakhir ini gagal, karena amunisinya dibawa Dian) aaak….

on the way menuju lokasi *sambil mengumpulkan ranting" yg jatuh*
on the way menuju lokasi *sambil mengumpulkan ranting” yg jatuh*
pengumpul ranting untuk api unggun, fufufu
pengumpul ranting untuk api unggun, fufufu
voila! sampailah kita di tempat tujuan
voila! sampailah kita di tempat tujuan
1234013_10200757265913689_1132762744_n
begitu ranting sudah terkumpul, bersiap nyalakan api unggun agar mengepul 🙂
sebelum senja menepi, tenda sudah siap berdiri
sebelum senja menepi, tenda sudah siap berdiri
api unggun
api unggun

laying down on the sand, listening the sound of waves, looking at the sky and enjoying the shooting stars…. because of that, we can’t close our eyes immediately, what an amazing night!

Senja sudah berganti malam. Suara ombak mulai keras bergemuruh, seperti akan menerkam keberadaan kami. Angin laut mulai “sembribit” meniup-niup mukena saya ketika melaksanakan sholat jamak Maghrib Isya, membuat suasana menjadi semakin romantis. (dari sini saya menyadari, bahwa romantis itu sederhana, yang diwujudkan dengan bersujud di pasir putih yang membentang indah dan menikmati segarnya hembusan angin laut ciptaan Illahi, Subhanallaah).
Setelah semuanya berkumpul, kami mulai memasak air hangat untuk sekedar membuat teh dan kopi serta memasak masakan yang saya yakin semua pasti bisa melakukannya, yaitu mie instan :D. Perut sudah lumayan terisi dan kantuk yang tak kunjung menghampiri, membuat api unggun jadi pilihan kami. Dengan berbekal ranting-ranting yang tadi dikumpulkan oleh pendahulu, beberapa tetes spritus dan goresan korek api, maka jadilah api unggun kami. Lingkaran besar tak sengaja kami buat di sekeliling api unggun, yaaa, untuk menghangatkan diri, bercanda ha ha hi hi, cerita sana sini dan bermain kartu yang butuh strategi. 😀

Yapz, malam itu memang benar-benar syahdu sekali, sampai tidak bisa tidur. Pada akhirnya menggelar jas hujan di depan tenda bersama mbak Puteri, dan kami pun merebahkan diri kami di atas pasir putih dan di bawah langit bertabur bintang hingga Shubuh menjelang. (eh, tapi akhirnya tidur ding dan bangun-bangun mendapati diri berselimut sleeping bag, eh maturnuwun) 😀

Nah…. agenda yang menyenangkan, mengharukan, membasahkan, dan tak akan terlupakan di hari yang cerah pun kami mulai….

lari pagi di temani riuhnya ombak pantai
lari pagi ditemani riuhnya ombak pantai
berkejaran dengan ombak pantai, asiknya
berkejaran dengan ombak pantai, asiknya
sarapan pagi :D
sarapan pagi 😀
lokasi tenda kami
lokasi tenda kami
muslimah in action
muslimah in action
muslim in action
muslim in action
drawing on the sand
drawing on the sand
saya kira apaan, ternyata patrick star
saya kira apaan, ternyata patrick star
we are a couple explorer *blush*
we are a couple explorer *blush*
full team before we go :'(
full team before we go 😥
take a rest
take a rest for awhile
we are going back, sayonara~ mata aemashou
we are going back, sayonara~ mata aemashou

Ingatlah kawan, laut adalah nikmat bagi kita, bagi penjala ikan (nelayan), bagi nahkoda yang memegang kemudi kapalnya, bagi ikan, serta hewan dan tumbuhan yang ada di dalamnya, bagi kecerdasan umat manusia atas asupan yang diperolah dari laut…. oleh karena itu kita harus selalu bersyukur dan senantiasa menjaganya, siang malam, terang dan gelap, dengan tidak mengotori ekosistem di laut/pantai, mengambil habitat laut dengan tidak menggunakan alat atau bahan yang merusak ekosistem perairan, dan selalu berdoa agar Allaah mencukupkan laut untuk kehidupan kita masa kini dan di masa-masa mendatang.

“Tidakkah kamu memperhatikan bahwa sesungguhnya kapal itu berlayar di laut dengan nikmat Allah, supaya diperlihatkan-Nya kepadamu sebahagian dari tanda-tanda (kekuasaan)-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi semua orang yang sangat sabar lagi banyak bersyukur” (QS Luqman : 31)

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan” (QS Al Baqarah : 164)

Maturnuwun teman-teman JAVENTURE yang telah membersamai selama ini, diajak wara-wiri, kesana-sini… nuhun atuh
Semangat makaryo, masa depan perekonomian bangsa ada di tangan akhi-ukhti, berantas korupsi, tetapi sabar kala diuji, laa hawla wa laa quwwata ila billah, tetap semangat dan niatkan segala aktivitas kita untuk Illahi….

thanks to:
– Allah SWT
– Bapak-Ibuk-adik
– teman” JAVENTURE
– Aziz dan Jundi
– dokumentasinya: Dian, mbak Endah, Wahyu, mbak Naris
– pihak” yang membantu tapi lupa ketika saya mengingatnya, afwan….

Advertisements

Rasakan Semangat Kemerdekaan bersama Alam #Merbabu from Wekas path

landscape from Wekas
landscape with Sumbing and Sindoro Mt. behind
like a painting for sure
like a painting for sure

“Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari segala kejahatan makhluk yang diciptakanNya”

Yuk berdoa terlebih dahulu sebelum melakukan perjalanan panjang ini agar selalu terlindung dari segala hal yang tidak diinginkan dan biarlah Allah senantiasa menjaga mata kita, tangan kita, kaki kita, hati kita dan Islam serta iman kita kapanpun dan dimanapun kita berada. Aamiin.

Pada tanggal 16 dan 17 Agustus 2013 yang lalu, tepatnya hari Jumat dan Sabtu yang bertepatan pula dengan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-68, jadilah kami melakukan suatu perjalanan yang sudah kami nantikan cukup lama. Keputusan melakukan perjalanan ini didasarkan pada wacana ketika berkelana di Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru bulan Mei-Juni 2013 kemarin. Nah, agenda yang sudah kami rencanakan sejak beberapa bulan yang lalu jatuh pada fun hiking di gunung Merbabu.

Malam itu, pada tanggal 15 Agustus 2013 kami melakukan berbagai persiapan. Oya, kami satu kelompok berjumlah delapan orang, tiga ikhwan dan lima akhwat. Seorang ikhwan ada yang berasal dari Purworejo sehingga dia rela menempuh perjalanan cukup jauh untuk berkumpul di Jogja sebelum berangkat. Pun begitu dengan tim akhwat, ada dua orang yang berasal dari Solo dan Sragen yang pada malam itu menginap di rumah saya. Di rumah seorang ikhwan (basecamp) kami mempersiapkan dan membeli berbagai perbekalan dan perlengkapan untuk menemani perjalanan kami selama dua hari satu malam. Perlengkapan kelompok kami bagi, dua tenda dengan kapasitas untuk enam dan empat orang dibawa oleh ikhwan, begitu juga dengan peralatan memasak. Perbekalan lainnya seperti bahan makanan dibawa oleh tim akhwat. Perlengkapan pribadi dibawa sendiri-sendiri ya 😀

Cuit cuit cuit…. keesokan harinya, jam tangan sudah menunjukkan pukul 07.00 WIB, kami tim akhwat bersiap menanti jemputan tim ikhwan di rumah saya. Oya, ceritanya… Alhamdulillaah sekali ada salah seorang teman yang baik hati, bersedia mengantar kami sampai resort Wekas dengan menggunakan mobilnya. Jadi, bisa lebih irit, lebih safe dan lebih cepat sampai daripada kami naik angkutan umum seperti rencana semula 😀 Alhamdulillaah….

Pukul 09.00 WIB kami berangkat dari Jogja menuju Magelang. Jalanan menuju Magelang terpantau cukup padat sehingga teman saya harus slow memacu kendaraannya. Oke baiklah. Sebelum sampai di resort Wekas, kami menjemput salah seorang teman akhwat kami yang berdomisili di Magelang, dan rumahnya hanya 30 menit dari Wekas.

Pukul 11.15 WIB kami sudah sampai Wekas dan segera mencari masjid untuk persiapan Shalat Jumat bagi yang ikhwan. Lha, rezekinya tim akhwat, sembari menunggui para ikhwan shalat Jumat, kami dipersilakan memasuki salah seorang rumah warga dan kami dijamu dengan hangat dan manisnya air teh dan beberapa camilan khas hari raya Lebaran. Alhamdulillaah, baik hati sekali ibu ini.

Pukul 12.30 WIB kami melanjutkan lagi perjalanan. Kami memilih menyewa mobil pick up untuk mengangkut kami ke basecamp Wekas daripada berjalan kaki. “Ya, kami simpan energi kami untuk mendaki nanti”. That’s an alibi. Hehe :p Sensasi menaiki mobil pick up sayur melewati areal pegunungan, mengingatkan saya ketika menaiki truk dari Tumpang menuju Ranu Pani kala itu. Akan tetapi, lebih ekstrim naik mobil pick up ternyata, lebih deg deg serrr…. Sesampainya di basecamp Wekas, kami beristirahat sejenak, yang akhwat menunaikan shalat Dhuhur dan yang ikhwan mengemas ulang kerir agar nyaman dibawa. Tak lupa kami mengisi perut kami dengan sedikit makanan bakso pentol yang dijual oleh mas-mas bersepeda motor. Alhamdulillaah lumayan menambah energi 😀

a map from Wekas
a map from Wekas

Pukul 13.30 WIB kami melanjutkan perjalanan. Kali ini tidak menggunakan kendaraan, but this is the real journey to the top! Yeah….

Cuaca hari itu sungguh panas dan matahari bersinar dengan teriknya. Akan tetapi perjalanan kami ditemani oleh hembusan angin yang cukup semilir. Amboiii. Selama perjalanan, kami menemui spot-spot yang cukup menarik seperti dua buah makam dengan bangunan di dekatnya/ di depannya, dan seketika itu berpikir apakah perjalanan ini pertanda semakin dekatnya kita dengan kematian? Allahu’alam….

Pukul 15.30 WIB kami sampai di Pos I dengan ketinggian 1752 mdpl dan kami beristirahat sejenak sambil membuka sedikit perbekalan. Alhamdulillaah.

Pukul 17.30 WIB kami sampai di Pos II di ketinggian 1952 mdpl atau area camping ground dan kami segera mencari posisi yang nyaman untuk mendirikan tenda. Pembagian tugas pun dimulai. Ada yang mendirikan tenda, mengambil air untuk memasak, mempersiapkan bahan dan alat masak, dan mencari kayu untuk membuat api unggun. 1…2…3…. Start and go! 

it's cooking and sharing time!
it’s cooking and sharing time!

Pukul 20.00 WIB setelah makan malam usai, kami pun menyalakan api unggun. Di bawah taburan bintang-bintang, di bawah sinar sang rembulan, dan hembusan angin yang menemani dinginnya malam, maka dimulailah cerita itu….

sky with thousand stars
sky with thousand stars

Pukul 21.00 WIB kami bergegas menuju ke dalam tenda untuk beristirahat dan memang malam itu luar biasa dinginnya sehingga saya pun tidak mampu berlama-lama berada di luar.

Pukul 01.00 WIB, hari dan tanggal sudah berganti menjadi Sabtu, 17 Agustus 2013. Kami bersiap untuk melakukan perjalanan malam meski malam itu lebih dingin dari sebelumnya. Belajar dari pengalaman-pengalaman sebelumnya, persiapan kali ini harus benar-benar matang. Mulai dari persiapan diri pribadi, penerangan, perbekalan, obat-obatan dan lain-lain.

give me sunrise!
give me sunrise!
P1200839
the path that called “geger sapi”
sunrise menuju puncak Merbabu
awesome view
PEACE YEAY...
PEACE YEAY…
Flag Ceremony on the top of the Merbabu Mt.
Flag Ceremony on the top of Merbabu Mt.

aaak, i can’t describe my feelings in words…. just look at the pictures and enjoy with me >_<  wanna go there ? I will be back very soon, Insya Allah…

Berakhir Pekan di Atas Awan

akhir pekan di atas awan
akhir pekan di atas awan (pict. @ Cokro Srengenge)

H-10 ujian skripsi, masih dengan perasaan yang setengah-setengah, apakah jadi ikut atau tidak? Tapi berkat izin dari ibu, setelah saya meyakinkan beliau kalau skripsi saya sudah selesai dan sudah menetapkan tanggal ujian, akhirnya diperbolehkan berangkat juga. Alhamdulillaah… 29-30 Juni 2013 akan menjadi momen melewatkan akhir pekan di atas awan.

Bismillaah… Tujuan jalan-jalan akhir pekan kali ini adalah Gunung Lawu, yang letaknya di sebelah timur Daerah  Istimewa Yogyakarta, tepatnya di perbatasan Jawa Tengah – Jawa Timur yaitu Karanganyar-Magetan. Keberangkatan dari Jogja menuju basecamp di Cemoro Kandang pada pukul 10.15 WIB dengan mengendarai sepeda motor sebagai single fighter heheee.

siap berpacu dengan Si Oranye
siap berpacu dengan Si Oranye
ready to go!
ready to go!

Perjalanan diperkirakan ditempuh selama 3-4 jam dengan melewati rute Klaten – Surakarta – Karanganyar – Tawangmangu. Melewati rute yang cukup padat namun lancar karena keberangkatan terhitung sudah memasuki weekend sehingga perlu kehati-hatian dalam memacu si Oranye. Saya berusaha terus fokus untuk berada di formasi terdepan, mengingat saya pengendara putri yang sendirian memacu motornya aloneDi pagi yang sudah cukup terik dan matahari mulai meninggi membuat emosi semakin tidak stabil ketika berkendara di jalan raya. Pesan saya…. stay cool, tetap sabar dan patuhi peraturan berlalu lintas 😀 Sesampainya di pusat kota Surakarta, kami mulai slow, dihadapkan pada kondisi lalu lintas kota yang mulai padat. Karena kami berangkat dalam rombongan, tak heran adanya pengendara yang tertinggal di belakang, istilahnya kecer.  Pengendara yang berada di depan sepakat untuk menghentikan lajunya di suatu tempat yang sekiranya mudah untuk ditemukan. Terpilihlah Universitas Sebelas Maret (UNS) menjadi tempat persinggahan kami sejenak.

main gate UNS
main gate UNS
jajan dulu sebelum melanjutkan perjalanan
jajan dulu sebelum melanjutkan perjalanan

Saat itu waktu menunjukkan pukul 13.00 WIB. Setelah menanti cukup lama pengendara yang tadi berada di belakang dan hasrat jajan telah terpenuhi, kami pun bergegas memacu kendaraan melanjutkan perjalanan. Hari semakin siang dan panas semakin menyengat. Tapi tetep kalem dan woles saja 😀 Perjalanan yang ditempuh semakin lama semakin naik saja medannya. Ah, ini pertanda sudah mulai memasuki area dataran tinggi Karanganyar, yaitu menuju ke  Tawangmangu. Baiklah, gigi mesin mulai diturunkan perlahan. Semakin naik medannya, suhu mulai turun, hawa pegunungan seakan-akan langsung menusuk kulit tanpa terhalang oleh pakaian tebal. Tak apa, yang paling penting adalah si Oranye tidak macet karena ikut kedinginan, hehe. Waktu hampir menunjukkan pukul 14.00 WIB, diperkirakan kurang dari 1 km lagi sudah mencapai basecamp Cemoro Kandang. Tetapi ada rombongan yang masih di belakang dan pada akhirnya kami pun menanti sejenak di persimpangan jalan (perempatan).

di persimpangan jalan
di persimpangan jalan

Pada pukul 14.15 kami pun sampai di basecamp Cemoro Kandang dan segera saya letakkan barang bawaan serta bergegas mengambil air wudhu untuk menunaikan shalat Dhuhur-Ashar jamak-qashar. Seusai shalat, saya melakukan recheck barang bawaan apakah masih ada yang perlu disediakan. Dan pada akhirnya saya menambah persediaan air minum karena kemungkinan di atas akan kesulitan mencari sumber air. Sebelum melakukan pendakian, kami bertegur sapa terlebih dahulu dengan pengelola posko Cemoro Kandang. Alhamdulillaah-nya bapak pengelola yang baik hati menyuguhkan kepada kami beberapa buah strawberry segar yang langsung dipetik dari pohonnya. Meski strawberry tersebut tidak terlalu merah dan ranum, tetapi rasanya begitu manis berpadu dengan rasa masam yang segar,  maknyus!

bascamp Cemoro Kandang
basecamp Cemoro Kandang
strawberry dari bapak pengelola
strawberry maknyus!

Setelah beristirahat mengumpulkan kekuatan dan mengecheck perbekalan, pada pukul 16.15 WIB kami bersiap melakukan pendakian, tujuan pertama adalah pos I. Baiklah, pukul 16.30 WIB dimulailah perjalanan kami. Setapak demi setapak saya lalui dengan membawa tas keril dengan kapasitas 45 L. Di dalam tas tersebut tersimpan SB (sleeping bag), matras, baju ganti, perlengkapan kebersihan diri, jaket, mukena dan yang paling penting ialah amunisi berupa air mineral dan makanan. Alhamdulillaah, tenda dan perlengkapan berat yang lain dibawa oleh para putra. Di posko Cemoro Kandang, terdapat peta jalur pendakian menuju puncak Gunung Lawu 3265 mdpl,yaitu di puncak Hargo Dumilah. Jadi ceritanya, jika kita berada di Posko Cemoro Kandang dan mendaki ke atas melewati Pos I (2300 mdpl) di kawasan Taman Sari bawah kemudian naik menuju Pos  II (2470 mdpl) di kawasan Taman Sari Atas. Nah, di Pos II ini area yang dekat dengan kawah dengan aroma belerang yang cukup kuat. Pos II menuju ke Pos III (2780 mdpl) merupakan rute terpanjang pendakian meskipun medannya tidak terlalu terjal dengan adanya pos bayangan di antara kedua pos tersebut. Sampailah kita di Pos IV (3025 mdpl) di kawasan Cokro Srengenge. Naik lagi, dan akan menemukan Pos V, yaitu persimpangan antara Hargo Dalem dan Hargo Dumilah (puncak). Kabarnya, inilah salah satu gunung yang di area puncaknya ada penjual makanan kecil sampai makanan besar, minuman juga ada, yaitu di kawasan Hargo Dalem. Warung kecil tersebut terkenal dengan sebutan “Warung Mbok Yem”. Asiiik kan 😀

denah jalur pendakian Gg. Lawu 3265 mdpl
denah jalur pendakian Gg. Lawu 3265 mdpl

Perjalanan ditempuh dengan tempo yang  slow  dan santai. Jika telah melalui medan yang cukup terjal  dan panjang, saya pun berhenti sejenak untuk sedikit mengobati rasa haus dan menstabilkan tarikan dan hembusan nafas. Pada pukul 17.25 WIB, pos I sudah di depan mata dan kami pun segera meletakkan perbekalan dan memilih tempat dengan memposisikan diri untuk beristirahat. Di Pos I ini,  waktu untuk beristirahat dialokasikan cukup lama karena sekalian melaksanankan sholat Maghrib dan Isya (jamak). Barulah kami berangkat menuju Pos II pada pukul 18.30 WIB setelah menghangatkan diri dengan beberapa cangkir kopi untuk satu rombongan, what a warm atmosphere 😀

Perjalanan kembali dilanjutkan menuju Pos II dengan headlamp yang siaga menerangi setiap langkah kaki. Selama menapaki jalur pendakian, usahakan berjalan menunduk/ memperhatikan jalan yang dilewati untuk meningkatkan kewaspadaan diri jika ada aral yang melintang di depan kita. Selain itu, jika melakukan pendakian di saat masih dalam keadaan yang terang benderang tetap perhatikan bawah/ jalan saja. Karena secara psikologis, jika kita menatap ke depan/ atas, akan terasa cepat lelah ditambah dengan suara hati “kok ndak sampai-sampai ya?” nah, hal tersebut perlu dihindari. Fokus saja, perhatikan jalanan yang akan  dilalui. Siiip…. Tak terasa satu jam lebih sedikit telah terlampaui. Sampailah kami di Pos II. Saat itu jam menunjukkan pukul 19.45 WIB. Kami pun berhenti sejenak, sembari menanti teman-teman yang masih berada di belakang. Duduk selonjor dan meletakan keril. Terpaan angin dan bau belerang mulai terasa. Bintang-bintang bertaburan di angkasa, nampaknya dekat sekali. Indah memang, tetapi memberikan efek “lebih dingin” dari malam biasanya. Pada pukul 20.00 WIB, terlihat sorot lampu senter/ headlamp dari bawah. Nah, itu pasti rombongan yang di belakang. Dan benar adanya. Mereka yang baru datang kemudian mengambil tempat-tempat kosong di bawah atap Pos II lalu duduk dan menyandarkan diri pada keril-nya. Sembari istirahat, kami pun berdiskusi dimana akan nge-camp. Dan akhirnya diputuskan mendirikan tenda untuk menginap semalam di Pos II. Ada beberapa tenda, salah satunya tenda khusus putri, yang di dalamnya ada saya, mbak Beti dan teman beliau. Nah, mbak Beti ini yang kemarin sama-sama mendaki sampai Semeru. Orangnya baik hati dan sangat ngemong. Malam semakin larut dan kami pun bergegas tidur untuk mempersiapkan untuk summit dini hari. Tak lupa mengatur alarm HP agar bisa bangun sebelum waktu yang ditentukan untuk mempersiapkan segalanya.

Jam menunjukkan pukul 02.30 WIB, dan rasanya masih mengantuk, apalagi ditambah hawa yang dingin membuat tidur menjadi tidak nyenyak dan sering terbangun. Tapi apa daya, kalau tidak segera bangun nanti telat dapat sunrise di puncak. Dan singkat cerita, mari kita mulai summit attack!!! 

Summit dimulai pukul 03.30 WIB dari Pos II. Dengan mengenakan jaket tebal anti air, mencangklong tas selempang kecil (yang berisi air minum, madu, minuman puncak, camdig, dll), headlamp yang melingkar di kepala, pakaian lapangan kaos  dan rok (ehh) sudah siap menuju ke puncak. Rute menuju ke Pos III merupakan jalur yang tidak terlalu terjal tapi cukup panjang. Untuk mencapai kesana diperlukan kehati-hatian dalam melangkah karena bisa jadi di sisi kanan atau kirimu adalah jurang, apalagi perjalanan ditempuh pada malam hari, harus super hati-hati. Sebelum menuju ke Pos III, kami melewati Pos Bayangan dan berhenti sejenak untuk beristirahat. Ketika sampai di Pos Bayangan, sudah terdengar sayup-sayup adzan Shubuh dari bawah, tetapi kami segera melanjutkan perjalanan menuju Pos III karena sudah hampir dekat. Jam 05.00 WIB kami sampai di Pos III dan langsung melaksanakan sholat Shubuh. Beristirahat sejenak sembari menunggu teman-teman lain yang belum sampai. Setelah mereka sudah naik sampai di Pos III, barulah kami beranjak untuk menuju ke pos selanjutnya, yaitu Pos IV. Nah, dari Pos III ke Pos IV ini jalanan mulai terjal, beberapa kali rok saya tersangkut di bebatuan atau batang pohon yang agak menjalar ke tanah — jadi harus agak cincing-cincing — begitulah. Jangan dikira mengenakan rok tidak bisa melakukan pendakian, tetap bisa kok, lebih berhati-hati saja. Mengenakan rok memang dapat mengurangi kelincahan, tetapi hanya sebesar 9% saja (rumus kira-kira, haha).

Perjalanan menuju Pos IV, matahari sudah mulai memerah muncul dari ufuk Timur, yak sunrise. Ya Allah, puncak masih begitu jauh tapi matahari sudah menyusul kami. Skak mat, kalah cepat. Baiklah, berarti harus cepat memacu langkah menuju ke Pos IV, tetapi kenapa langkah ini semakin berat dan jalan ini semakin terjal. Pukul 05.45 sampailah kami di Pos IV, Cokro Srengenge. Subhanallaah, ternyata belum sampai puncak  saja pemandangan pagi disini sudah tampak indah dan megah. Awan-awan putih benar-benar ada di bawah kami. Sembari beristirahat sejenak di Pos IV, mengembalikan energi secara cepat dengan menyuplai glukosa ke otak dengan madu stick bawaan wajib ketika menggunung -bukan iklan- 😀

madu stick aneka rasa semua suka
madu stick aneka rasa semua suka

Dari camp Cemoro Kandang menuju ke puncak (Hargo Dumilah) melewati simpangan Pos V, yaitu jalan yang juga menuju Hargo Dalem (warung Mbok Yem). Kalau Hargo Dumilah belok kanan, tapi kalau mau ke Hargo Dalem lurus saja. Menuju ke puncak bisa juga melewati Hargo Dalem, tetapi medan yang memutar membut pendakian menjadi lebih jauh dan lama. Eits, nilai plusnya bisa mampir ke warung Mbok Yem dulu, sekedar mengisi bahan bakar dan nyruput minuman yang hangat-hangat…siiip. Tetapi saya lebih memilih berbelok ke kanan untuk menyegerakan menuju puncaknya. Perjalanan menuju puncak Hargo Dumilah dari Pos V menjadi semakin terjal, medannya sudah bebatuan semua dengan ditumbuhi oleh beberapa tanaman tahan dingin. Semakin ke atas, kemiringan medan semakin menjadi. Tetapi ingat, bumi punya gaya gravitasi, terhadap tubuh kita sifatnya seperti magnet. Percaya saya tidak akan jatuh (dengan sedikit mendekatkan diri pada pijakan bebatuan, it’s ngesot time!). Voila!, dan sampailah saya pada puncaknya. Alhamdulillaah….

-tugu- Puncak Lawu Hargo Dumilah 3265 mdpl
Puncak Lawu 3265 mdpl
memanggil awan kinton
“awan kinton, datanglah” puk puk puk

Dan Kami hamparkan bumi itu dan Kami letakkan padanya gunung-gunung yang kokoh dan Kami tumbuhkan padanya segala macam tanaman yang indah dipandang mata (Qaaf: 7)

Pemandangan dari puncak sini begitu indah, didukung cuaca yang cerah, langit yang biru dan awan yang putih, seperti sedang berada dalam sebuah dongeng “negeri di atas awan”. Subhanallaah megah sekali ciptaan-Mu ya Rabb. Berada di puncak, duduk selonjor sembari menikmati sari kacang hijau dan dengan sedikit goresan pena adalah benar-benar me TIME!

tak lupa, minuman favorit puncak
tak lupa, minuman favorit puncak

Dan Dia-lah Tuhan yang membentangkan bumi dan menjadikan gunung-gunung dan sungai-sungai padanya. Dan menjadikan padanya semua buah-buahan berpasang-pasangan, Allah menutupkan malam kepada siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan. (Ar-Ra’d: 3)

Tidak begitu lama berada di puncak, kami pun kembali menuju ke bawah. Sebelumnya ada rencana ingin menyapa Warung Mbok Yem dahulu di Hargo Dalem, akan tetapi hari sudah mulai siang dan matahari sudah mulai meninggi. Apalagi jalan untuk menuju kesana tidaklah dekat, harus memutar terlebih dahulu. Sebelum jam 09.00 kami sudah meninggalkan Hargo Dumilah menuju camp kami di Pos II. Perjalanan turun, kami memilih track yang landai. Akan tetapi, sesekali kami mencoba track cukup ekstrim dengan kemiringan hampir mendekati 90 derajat. Mmm, semacam perpaduan begitu, agar perjalanan tidak membosankan 😀

Kami kembali menapaki jalan yang sama seperti ketika berangkat saat dini hari. Perbedaannya adalah pemandangan yang indah dapat terlihat ketika siang hari, sungguh mengagumkan sekaligus mendebarkan ketika melintasi jalan setapak yang dihiasi jurang di kanan atau di kiri lintasan. Siang hari yang terik, matahari yang menyengat semakin memperlama perjalanan turun. Ditambah adanya rombongan dari kelompok lain yang akan naik dan yang bersamaan turun sehingga memperpadat lintasan setapak. Mari, nikmati saja perjalanan ini. Tak lama kemudian, jam 13.00 sudah sampai camp di Pos II. Istirahat sebentar di dalam tenda, sholat. Eh, Alhamdulillaah ada yang menawarkan masakan sederhana tapi istimewa sebagai makan pagi+siang (rapel) dari teman yang tidak ikut ke puncak. Alhamdulillaah (elus-elus perut setelah kelaparan). Baiklah, setelah badan berenergi kembali, siap-siap mengemasi barang, meninggalkan camp untuk menuju ke posko. Kami meninggalkan camp Pos II pada pukul 15.00 WIB. Challange! Harus bisa sampai posko jam 16.00 WIB. Oke, challange accepted! Hoho. Bukan berlari, hanya sedikit mempercepat langkah, dengan track yang cukup licin, Alhamdulillaah sampai di Pos I pada pukul 15.25 WIB. Lumayan! Istirahat sebentar, letakan keril, menikmati sisa persediaan madu stick dalam tas, dan meneguk sedikit air untuk membasahi  kerongkongan dan menghilangkan rasa manis yang tersisa, kemudian tancap lagi menuruni bukit. Tantangan di track menurun ini masih sama, yaitu licin sehingga harus benar-benar hati-hati dalam menapak. Setengah perjalanan, jalan menjadi cukup padat karena ada rombongan yang sedang turun juga. Oke, slow sedikit. Tak lama kemudian, seperti sudah lama dari hutan rimba, kami menemukan hiruk pikuk perumahan, jalan raya dan beberapa warung. Alhamdulillaah, sampai juga di Posko. Istirahat.

Mengingat saya mengendarai motor seorang diri, otomatis tidak bisa pulang malam-malam, apalagi dari area perbukitan….cukup menyeramkan… sehingga pada pukul 17.00 WIB pamit kepada rombongan, izin pulang mendahului yang lain. Tak lupa mengucapkan terima kasih atas ajakan perjalanan dan penjagaan dari teman-teman. Semoga bisa bertemu lagi di agenda jalan-jalan yang lain :D.

Perjalanan pulang, menjelang maghrib harus berbasah diri karena hujan turun ketika masih di Kabupaten Karanganyar, tapi Alhamdulillaah perjalanan Surakarta-Yogyakarta cukup lancar. Sebelum sampai di rumah, menyempatkan mampir membeli obat-panas-tempel dan susu jahe. Nyamaaan.
———————————————————————————————–
Catatan Perjalanan
Pengeluaran:
1. Bensin 2 x @Rp 15.000,- (masih sisa) = Rp 30.000,- (Rp 6.500/liter)
2. Bekal makanan dan minuman dari Yogyakarta = Rp 50.000,-
3. Bakso bakar depan UNS 2 x Rp 1.000,- = Rp 2.000,-
4. Kopi beli di warung depan Posko (Sabtu) = Rp 3.000,-
5. Teh beli di warung depan Posko (Ahad) = Rp 2.000,-
6. Bakso pentol (sedikit sekali) = Rp 2.500,-
total : Rp 89.500,- (menurut saya cukup hemat) 😀

———————————————————————————————–
Special thanks to:
-Allah SWT atas penjagaan-Nya di siang dan malam
-Bapak-Ibu atas izinnya di tengah hiruk pikuk skripsi & H-10 pendadaran >_<
-Adekku, Peppy…sudah meminjamkan si Oranye untuk menemani perjalanan
-teman” @infogunung atas ajakannya, much, mbak beti yang mengayomi
-Dian yang sudah bersedia meminjamkan keril
-mas Almoe yang telah meminjamkan sleeping bag
-temen” Javenture yang telah mendoakan
-dan semua pihak terkait yang secara tidak langsung mendukung keberangkatan saya,
TERIMA KASIH

Buku Perpustakaan dan Supermarket

tas dan isinya....
tas dan isinya….

Siang tadi, sepulang dari kampus berbelanja di supermarket. Saat transaksi telah usai, segera beranjak keluar dan tiba-tiba alarm pengaman berbunyi. Surprised dan bengong. Seketika itu juga, pemeriksaan tas pun terjadi..

(menarik nafas dalam-dalam) Petugas keamanan mulai membuka satu persatu kantong dalam tas. Pertama-tama, kantong paling besar dibuka, petugas mengeluarkan benda-benda di dalamnya yang berisi buku perpus, notes, map dan alat tulis (ingat dan senyum-senyum pengen ketawa). Petugas terus menggeledah isi tas, tetapi kubiarkan saja. Terus dan terus sampai semua benda keluar dari dalam tas. Kemudian kuambil salah satu benda yang ada dalam tas, dan kudekatkan pada alarm pengaman, dan voila berbunyi! Benda apa itu ? Ya, itu adalah buku dari perpustakaan yang memakai pengamanan sensor. Begitu mengetahui hal tersebut, petugas langsung meminta maaf karena telah membongkar isi tas. Oke, saya maafkan 😀

#ketawa-guling-guling-guling

hikmahnya: jangan berbelanja ke supermarket sepulang dari perpus (FK UGM)

Alhamdulillaah, nanti sore bisa bikin es lemoninna buat buka puasa  (hasil belanjaan tadi)

Night of Reunion — from pen to pan

(sudah cukup lama tidak main-main kesini…. ternyata masih ada note yang bersembunyi di draft, hyaaa~)

baiklah, mari kita awali saja dengan Bismillah…. Yaa Rahman Yaa Rahiim

Sekilas cerita…. Sudah satu setengah bulan yang lalu saya meninggalkan rumah demi mengemban tugas dari Univ dan Fakultas, yaitu mengabdi dan melayani masyarakat yang dikemas dalam serangkaian agenda KKN — kuliah kerja nyata di Nanggulan, West Progo. Bentuk pengabdian yang dilakukan kepada masyarakat yaitu melakukan survey mengenai kelayakan tempat tinggal dan keadaan lingkungan di seluruh area Kecamatan Nanggulan (–FYI– ada 6 desa, dan masing” desa rata-rata ada 8 dusun -___- tapi Alhamdulillaah tidak semua rumah kami survey :D). Pencatatan data ini bertujuan untuk melihat seberapa parah keadaan tempat tinggal penduduk yang nantinya akan ditindaklanjuti dengan “pembedahan rumah” oleh Pemerintah Kabupaten. Bentuk pengabdian yang lain berupa kegiatan yang dapat mengedukasi masyarakat sekitar sesuai dengan ranah dan bidang yang kami miliki. Nah, yang menjadikan KKN kali ini cukup spesial adalah adanya pelayanan yang kami berikan untuk masyarakat yang diwujudkan dalam kegiatan praktik di Puskesmas Nanggulan. Meskipun tema KKN kami tidak secara langsung berbicara tentang kesehatan, tetapi sebagian besar dari kami adalah tenaga-tenaga kesehatan. Oleh karena itu, dari Fakultas Kedokteran memberikan amanah kepada kami untuk membantu kinerja petugas kesehatan di puskesmas tersebut. Wow, menurut saya ini adalah pengalaman dan pembelajaran yang sangat berharga ketika dapat “berkomunikasi” langsung dengan masyarakat, khususnya di pedesaan.

Nah, cerita sebenarnya akan saya mulai sekarang. Sudah semenjak pertengahan tahun lalu (2012) saya mendampingi belajar dua anak putri kelas 2 SMP di salah satu smp Islam swasta di Jogja. Biasanya mereka saya panggil mbak “tentee”. Kedua anak putri ini satu kelas, pun rumah mereka juga tidak begitu berjauhan. Waktu pendampingan belajar disepakati 2 kali pertemuan dalam sepekan dan dilaksanakan setiap ba’da Maghrib selama 60-90 menit (kebiasaan melebihi kuota karena lebih banyak candaan dan bercerita). Kagumnya saya, mereka semua sangat bertalenta, seorang memiliki bakat menyanyi dan public speaking-nya bagus, dan seorang lagi memiliki keahlian memainkan gitar dan dia belajar secara otodidak serta memiliki impian menjadi seorang conductor (setalah nonton Nodame dan suka dengan Chiaki-senpai~). Jadi selama saya mengikuti KKN, agenda pendampingan belajar pun terhenti sejenak. Sebenarnya 45 menit waktu tempuh dari Nanggulan-rumah atau rumah-Nanggulan terbilang cukup dekat 😀 tetapi kadang seram dan cukup berbahaya jika pulang di kala gelapnya malam. Oke, dengan terhentinya kegiatan pendampingan belajar semasa saya KKN, maka saya janjikan kepada mereka dengan satu malam yang spesial sepulang dari KKN. Dan mereka mengatakan ingin belajar memasak takoyaki bersama. Mariii~

takoyaki1

Takoyaki are known as octopus (tako) balls. To make takoyaki, a cast iron or electric takoyaki pan with many half-spherical molds is used.

Ingredients:

  • 1 2/3 cup flour
  • 2 1/2 cup dashi soup
  • 2 eggs
  • 1/2 lb. boiled octopus, cut into bite-size pieces
  • 1/4 cup finely chopped green onion
  • 1/4 cup finely chopped benishoga (pickled red ginger)
  • 1/4 cup dried sakura ebi (red shrimp) *optional
  • *For toppings:
  • katsuobushi (dried bonito flakes)
  • aonori (green seaweed powder)
  • Worcestershire sauce or takoyaki sauce
  • mayonnaise

Preparation:

Mix flour, dashi soup, and eggs in a bowl to make batter. Thickness of the batter should be like potage soup. Preheat a takoyaki pan and grease the molds. Pour batter into the molds to the full. Put octopus, red ginger, green onion, and dried red shrimp in each mold. Grill takoyaki balls, flipping with a pick to make balls. When browned, remove takoyaki from the pan and place on a plate. Put sauce and mayonnaise on top and sprinkle bonito flakes and aonori over.

resep diambil dari sini>takoyaki2

ada keinginan, namun tak sejalan

31 Desember 2012, akhir tahun 2012…. ada agenda apa? perayaan apa? mmm, nampaknya tidak ada ya kawan 😀 mending hujan yg deras (area Purwokerto), seperti malam ini, itu lebih baik….

Bismillaah, lama nian rasanya tidak muncul di laman ini, sepi….sepi….

krik krik…..

ah sudahlah, kembali mengerjakan tugas-tugas PKL yang menanti… semangat

MILAD SMP Negeri 2 Yogyakarta ke-70

Siang itu, hari Rabu (11/9), beberapa jam sebelum acara perkuliahan usai, saya mendapat jarkom dari salah seorang teman SMP saya. Secara keseluruhan isinya menginformasikan pesan dari Pak Kepala Sekolah (Pak Emed) bahwa di SMP 2 Yogyakarta (Ezphero) akan diadakan serangkaian agenda menyambut dan memperingati MILAD-nya yang ke-70. Beberapa hari sebelumnya, begitu lekat diingatan saya, bahwa tanggal 12 September merupakan hari bersejarah bagi SMP kami, SMP 2 Yogyakarta. Kemudian sms jarkom tersebut saya sebarkan ke teman, kakak kelas dan kolega yang lain. Yah, jika mereka memiliki waktu luang, dapat mengunjungi kenangan lama di SMP 2. Balasan sms secara cepat datang dari seorang yang saya jarkom-kan sms tadi. Beliau mengatakan bahwa sore ini (Rabu sore, 11/9) juga ada agenda, yaitu karnaval kesenian dari siswa/i SMP 2 di Malioboro. Sontak, mendengar kabar tersebut, saya selaku seorang alumni, ingin menyaksikan acara tersebut karena seumur-umur, ketika milad SMP, baru kali ini acaranya menarik hati saya, hehe :D. Baiklah, pokoknya usai kuliah sore ini, langsung menuju ke TKP, asyiiik.

Kuliah pun berakhir. Jangan lupa sholat Ashar dulu sebelum berangkat! Sesampainya disana (kami melewati SMA 10) acaranya sudah dimulai, pas banget! Mereka berjalan, berarakan, dari Kepatihan hingga SMP 2 sebagai finish-nya. Jalanan begitu riuh dan cukup padat merayap. Pandangan mata kurang jelas karena begitu ramainya suasana kala sore itu. Akhirnya, kami memutuskan untuk tancap gas saja menuju ke SMP 2. Sebelum arak-arakan tersebut sampai di SMP 2, kami pun berhenti di pinggir jalan, di utara jalan, dekat dengan penjual poster-poster. Nah, di spot itu, saya berhasil mengambil beberapa gambar, yah, itung-itung buat kenangan dan dokumentasi saya pribadi :D.

kreatif ini, zaman saya ndak ada, meski awalnya kukira pada mau demo, hehe 😀

tebak-tebakan
kiri atas: Pak Manto sedang mboncengin siapa hayo?
kanan atas : itu bu guru yang sedang jalan namanya Bu *****
kanan bawah : dimana saya ngambil gambar itu ?
kiri bawah : mereka juga alumni SMP 2, angkatan berapa ya ?

Setelah agenda pawai berakhir, mumpung masih ada sedikit waktu sebelum Maghrib tiba, saya sempatkan silaturrahim ke SMP. Sudah lama rasanya tidak masuk sana. Ketika sampai disana, saya temui guru satu per satu. Dan alhasil, tidak ada yang ingat nama saya 😦 tapi familiar dengan wajah saya (kasihan sekali kamu Inn). Yasudah, satu per satu saya salami guru-guru sambil memperkenalkan lagi diri saya dan angkatan berapa ^^”

Meski begitu, Bapak-Ibu Guruku tersayang, saya tak akan melupakan wajah dan nama-namamu 😀 mari checklist-nya… (berdasarkan yang saya temui)

Matematika: Bu Eko, Bu Asniah, Bu Karsiyah, Pak Surahmanto, Pak Chaerul

Bahasa Indonesia : Bu Heni, Pak Aris, Pak Suraji

Geografi : Bu Surya

Fisika : Bu Ruli, Bu Bekti

Sejarah : Bu Supriyati, Bu Hasni

PPKn : Pak Sasmito

Olahraga : Pak Sakir

Agama Islam : Pak Budi (ada uhuk-uhuk ni sama bapak yang satu ini ^^9)

Biologi : tidak saya temui, berharap bertemu bu Yeni, tapi beliau sudah tidak ngajar lagi ternyata 😦

Seni Musik : Pak Dwi

Penjaga Sekolah : Pak Ben

(jika ada yang kurang, mohon bisa menambahkan :D)

Akhirnya, di penghujung kesempatan saya berkunjung ke SMP, saya sempatkan menilik lebih ke dalam. Wah sudah banyak berubah. Jadi lebih teduh dan adem. Fasilitas makin lengkap, dan sekarang ada kelas CI (Cerdas Istimewa-semacam kelas akselerasi). Sip lah d^^b. Selamat MILAD ke-70 SMP 2 Yogyakarta, tambah maju tambah jaya cerdaskan bangsa dan yang paling penting, bentuk karakter sekolah yang bermoral dan beragama.

MILAD ke-70 SMP 2 Yogyakarta

*sedikit tambahan,

tak kenal maka ta’aruf, jika lupa mohon ingat saya ^^v

Inna Rachmawati (Inna) angkatan 2006 (keluar). Dulu di kelas 1C, 2E, 3C. Pernah ikut ekskul mading dan tonti. Setelah itu SMA 1 Yogyakarta. Sekarang di Gizi Kesehatan FK UGM yang InsyaAlloh lulus tahun depan, doanya ya 😀 salam kenal….

Muslimah: OKE ruhiyah dan fisikiyah!

Di dalam dunia dakwah, hal yang penting dimiliki oleh seorang muslim/muslimah adalah kekuatan ruhiyah, baik akhlak maupun aqidah. Apakah itu saja cukup? Okey, jawabannya mari kita kembalikan kepada diri kita masing” :D. Menurut saya, muslimah itu wajib memiliki ruhiyah yang kuat, tapi penting juga memiliki fisikiyah yang tak lemah agar terbangun energi yang sinergis antara jiwa dan tubuh kita.

Nah, untuk meningkatkan ketahanan fisik muslimah, pada tanggal 18 Maret 2012 kemarin FSRMY dari biro muslimah mengadakan kegiatan dauroh jasadiyah atau training fisik untuk muslimah dalam bentuk susur pantai. Pantai yang dipilih adalah pantai Kwaru dan Goa Cemara. Pantai yang terbilang masih cukup baru di Daerah Istimewa Yogyakarta ini cukup menarik minat dan antusiasme peserta dalam mengikuti serangkaian kegiatan tersebut. Tujuan lain diadakannya agenda ini adalah untuk menguatkan ukhuwah dan silaturrahim muslimah di Jogja, juga tujuan untuk rihlah pun tak ketinggalan :D. Uraian kegiatan selengkapnya bisa ditelusuri di http://muslimahjogja.wordpress.com 😀

Image
Rihlah-Outbound-Training-Susur Pantai di Pantai Kwaru-Goa Cemara

Mini aquatic ecosystem project #sideone

Ingat beberapa tahun silam ketika saya masih duduk di bangku sekolah dasar. Terpajang aquarium berukuran cukup besar yang menghidupkan suasana di ruang tamu saya. Aquarium tersebut berukuran lebih dari 1 meter panjangnya, yah, cukup untuk hidup ikan Arwana sepanjang lengan orang dewasa :D. Tapi, kini aquarium itu telah tiada setelah peristiwa kematian ikan Arwana yang tidak diketahui penyebabnya. Malang sungguh malang. Kalau pun dijual, tidak bisa dibayangkan harga ikan Arwana tersebut (berlebihan :p). Melalui kejadian ini pula, sekeluarga menikmati makanan yang mungkin adalah makanan yang paling mahal sepanjang hidup kami, yaitu ikan Arwana goreng. Sungguh sebuah ironi >_<” Ajaib benar! Jika mengingat masa lalu yang itu, jadi membuat senyum-senyum sekaligus merasa tidak tega sendiri, kok bisa ya? Kejutan lain di balik kenikmatan dan kemewahan daging Arwana tersebut, ternyata sang ikan sedang menyimpan telur-telur yang siap untuk dikeluarkan. MasyaAlloh ^_^ (saat makan, ada rasa berkecamuk dalam jiwa #uwaduh). Haaa, cukup sudah, itu pengalaman terunik yang masih saya kenang sampai sekarang 😀

Nah, ini baru cerita sebenarnya yang relevan dengan judul, hehe :D. Suatu hari adik saya memberikan opininya “Mbak, bikin aquarium yok. Kata guruku, kepenatan itu akan terobati ketika melihat sesuatu yang menarik, seperti pancaran warna-warni dari tubuh ikan, gerak dan tingkahnya serta keasrian ekosistem air dalam aquarium” (pernyataan dengan saduran :D) Pikir saya, oh benar juga ya. Sudah lama saya ingin memiliki aquarium lagi untuk mewarnai dan menambah keindahan ruangan dalam rumah kami sekaligus sebagai objek memanjakan mata setelah lelah seharian (habis macul nampaknya :p). Tapi kapan ya bisa merealisasikannya ? (sok sibuk, tapi pancen iya :p) Pas lebaran kemarin, kami sowan ke rumah eyang di Solo. Sudah setahun ndak kesana (setahun sekali ke Solo=Lebaran), di halaman rumah ada kolam ikan baru. Saya dan adik langsung tertarik. Kompakan bilang. “Ayo bikin kolam ikan aja!” Ayah mendengar dan bilang. “Yo ndak papa, bikin kecil di depan rumah.” Berawal dari situ lah, proyek ini kami sepakati. (Lho katanya pengen bikin aquarium? tunggu proyek berikutnya…khukhukhu :p)

Hari Rabu (5/9) material yang diperlukan untuk membuat kolam sudah dipesan, terdiri dari pasir, batu bata dan semen. Sore itu juga material sudah siap berada di depan rumah. Proyek ini secara langsung ditangani oleh salah seorang saudara saya yang cukup expert soal bangun-membangun, jadi kami percayakan padanya saja 😀 Mulai membuat kolam hari ini, Kamis (6/9), masih on progress. Foto-foto menyusul yap….to be continued.