Berakhir Pekan di Atas Awan

akhir pekan di atas awan
akhir pekan di atas awan (pict. @ Cokro Srengenge)

H-10 ujian skripsi, masih dengan perasaan yang setengah-setengah, apakah jadi ikut atau tidak? Tapi berkat izin dari ibu, setelah saya meyakinkan beliau kalau skripsi saya sudah selesai dan sudah menetapkan tanggal ujian, akhirnya diperbolehkan berangkat juga. Alhamdulillaah… 29-30 Juni 2013 akan menjadi momen melewatkan akhir pekan di atas awan.

Bismillaah… Tujuan jalan-jalan akhir pekan kali ini adalah Gunung Lawu, yang letaknya di sebelah timur Daerah  Istimewa Yogyakarta, tepatnya di perbatasan Jawa Tengah – Jawa Timur yaitu Karanganyar-Magetan. Keberangkatan dari Jogja menuju basecamp di Cemoro Kandang pada pukul 10.15 WIB dengan mengendarai sepeda motor sebagai single fighter heheee.

siap berpacu dengan Si Oranye
siap berpacu dengan Si Oranye
ready to go!
ready to go!

Perjalanan diperkirakan ditempuh selama 3-4 jam dengan melewati rute Klaten – Surakarta – Karanganyar – Tawangmangu. Melewati rute yang cukup padat namun lancar karena keberangkatan terhitung sudah memasuki weekend sehingga perlu kehati-hatian dalam memacu si Oranye. Saya berusaha terus fokus untuk berada di formasi terdepan, mengingat saya pengendara putri yang sendirian memacu motornya aloneDi pagi yang sudah cukup terik dan matahari mulai meninggi membuat emosi semakin tidak stabil ketika berkendara di jalan raya. Pesan saya…. stay cool, tetap sabar dan patuhi peraturan berlalu lintas 😀 Sesampainya di pusat kota Surakarta, kami mulai slow, dihadapkan pada kondisi lalu lintas kota yang mulai padat. Karena kami berangkat dalam rombongan, tak heran adanya pengendara yang tertinggal di belakang, istilahnya kecer.  Pengendara yang berada di depan sepakat untuk menghentikan lajunya di suatu tempat yang sekiranya mudah untuk ditemukan. Terpilihlah Universitas Sebelas Maret (UNS) menjadi tempat persinggahan kami sejenak.

main gate UNS
main gate UNS
jajan dulu sebelum melanjutkan perjalanan
jajan dulu sebelum melanjutkan perjalanan

Saat itu waktu menunjukkan pukul 13.00 WIB. Setelah menanti cukup lama pengendara yang tadi berada di belakang dan hasrat jajan telah terpenuhi, kami pun bergegas memacu kendaraan melanjutkan perjalanan. Hari semakin siang dan panas semakin menyengat. Tapi tetep kalem dan woles saja 😀 Perjalanan yang ditempuh semakin lama semakin naik saja medannya. Ah, ini pertanda sudah mulai memasuki area dataran tinggi Karanganyar, yaitu menuju ke  Tawangmangu. Baiklah, gigi mesin mulai diturunkan perlahan. Semakin naik medannya, suhu mulai turun, hawa pegunungan seakan-akan langsung menusuk kulit tanpa terhalang oleh pakaian tebal. Tak apa, yang paling penting adalah si Oranye tidak macet karena ikut kedinginan, hehe. Waktu hampir menunjukkan pukul 14.00 WIB, diperkirakan kurang dari 1 km lagi sudah mencapai basecamp Cemoro Kandang. Tetapi ada rombongan yang masih di belakang dan pada akhirnya kami pun menanti sejenak di persimpangan jalan (perempatan).

di persimpangan jalan
di persimpangan jalan

Pada pukul 14.15 kami pun sampai di basecamp Cemoro Kandang dan segera saya letakkan barang bawaan serta bergegas mengambil air wudhu untuk menunaikan shalat Dhuhur-Ashar jamak-qashar. Seusai shalat, saya melakukan recheck barang bawaan apakah masih ada yang perlu disediakan. Dan pada akhirnya saya menambah persediaan air minum karena kemungkinan di atas akan kesulitan mencari sumber air. Sebelum melakukan pendakian, kami bertegur sapa terlebih dahulu dengan pengelola posko Cemoro Kandang. Alhamdulillaah-nya bapak pengelola yang baik hati menyuguhkan kepada kami beberapa buah strawberry segar yang langsung dipetik dari pohonnya. Meski strawberry tersebut tidak terlalu merah dan ranum, tetapi rasanya begitu manis berpadu dengan rasa masam yang segar,  maknyus!

bascamp Cemoro Kandang
basecamp Cemoro Kandang
strawberry dari bapak pengelola
strawberry maknyus!

Setelah beristirahat mengumpulkan kekuatan dan mengecheck perbekalan, pada pukul 16.15 WIB kami bersiap melakukan pendakian, tujuan pertama adalah pos I. Baiklah, pukul 16.30 WIB dimulailah perjalanan kami. Setapak demi setapak saya lalui dengan membawa tas keril dengan kapasitas 45 L. Di dalam tas tersebut tersimpan SB (sleeping bag), matras, baju ganti, perlengkapan kebersihan diri, jaket, mukena dan yang paling penting ialah amunisi berupa air mineral dan makanan. Alhamdulillaah, tenda dan perlengkapan berat yang lain dibawa oleh para putra. Di posko Cemoro Kandang, terdapat peta jalur pendakian menuju puncak Gunung Lawu 3265 mdpl,yaitu di puncak Hargo Dumilah. Jadi ceritanya, jika kita berada di Posko Cemoro Kandang dan mendaki ke atas melewati Pos I (2300 mdpl) di kawasan Taman Sari bawah kemudian naik menuju Pos  II (2470 mdpl) di kawasan Taman Sari Atas. Nah, di Pos II ini area yang dekat dengan kawah dengan aroma belerang yang cukup kuat. Pos II menuju ke Pos III (2780 mdpl) merupakan rute terpanjang pendakian meskipun medannya tidak terlalu terjal dengan adanya pos bayangan di antara kedua pos tersebut. Sampailah kita di Pos IV (3025 mdpl) di kawasan Cokro Srengenge. Naik lagi, dan akan menemukan Pos V, yaitu persimpangan antara Hargo Dalem dan Hargo Dumilah (puncak). Kabarnya, inilah salah satu gunung yang di area puncaknya ada penjual makanan kecil sampai makanan besar, minuman juga ada, yaitu di kawasan Hargo Dalem. Warung kecil tersebut terkenal dengan sebutan “Warung Mbok Yem”. Asiiik kan 😀

denah jalur pendakian Gg. Lawu 3265 mdpl
denah jalur pendakian Gg. Lawu 3265 mdpl

Perjalanan ditempuh dengan tempo yang  slow  dan santai. Jika telah melalui medan yang cukup terjal  dan panjang, saya pun berhenti sejenak untuk sedikit mengobati rasa haus dan menstabilkan tarikan dan hembusan nafas. Pada pukul 17.25 WIB, pos I sudah di depan mata dan kami pun segera meletakkan perbekalan dan memilih tempat dengan memposisikan diri untuk beristirahat. Di Pos I ini,  waktu untuk beristirahat dialokasikan cukup lama karena sekalian melaksanankan sholat Maghrib dan Isya (jamak). Barulah kami berangkat menuju Pos II pada pukul 18.30 WIB setelah menghangatkan diri dengan beberapa cangkir kopi untuk satu rombongan, what a warm atmosphere 😀

Perjalanan kembali dilanjutkan menuju Pos II dengan headlamp yang siaga menerangi setiap langkah kaki. Selama menapaki jalur pendakian, usahakan berjalan menunduk/ memperhatikan jalan yang dilewati untuk meningkatkan kewaspadaan diri jika ada aral yang melintang di depan kita. Selain itu, jika melakukan pendakian di saat masih dalam keadaan yang terang benderang tetap perhatikan bawah/ jalan saja. Karena secara psikologis, jika kita menatap ke depan/ atas, akan terasa cepat lelah ditambah dengan suara hati “kok ndak sampai-sampai ya?” nah, hal tersebut perlu dihindari. Fokus saja, perhatikan jalanan yang akan  dilalui. Siiip…. Tak terasa satu jam lebih sedikit telah terlampaui. Sampailah kami di Pos II. Saat itu jam menunjukkan pukul 19.45 WIB. Kami pun berhenti sejenak, sembari menanti teman-teman yang masih berada di belakang. Duduk selonjor dan meletakan keril. Terpaan angin dan bau belerang mulai terasa. Bintang-bintang bertaburan di angkasa, nampaknya dekat sekali. Indah memang, tetapi memberikan efek “lebih dingin” dari malam biasanya. Pada pukul 20.00 WIB, terlihat sorot lampu senter/ headlamp dari bawah. Nah, itu pasti rombongan yang di belakang. Dan benar adanya. Mereka yang baru datang kemudian mengambil tempat-tempat kosong di bawah atap Pos II lalu duduk dan menyandarkan diri pada keril-nya. Sembari istirahat, kami pun berdiskusi dimana akan nge-camp. Dan akhirnya diputuskan mendirikan tenda untuk menginap semalam di Pos II. Ada beberapa tenda, salah satunya tenda khusus putri, yang di dalamnya ada saya, mbak Beti dan teman beliau. Nah, mbak Beti ini yang kemarin sama-sama mendaki sampai Semeru. Orangnya baik hati dan sangat ngemong. Malam semakin larut dan kami pun bergegas tidur untuk mempersiapkan untuk summit dini hari. Tak lupa mengatur alarm HP agar bisa bangun sebelum waktu yang ditentukan untuk mempersiapkan segalanya.

Jam menunjukkan pukul 02.30 WIB, dan rasanya masih mengantuk, apalagi ditambah hawa yang dingin membuat tidur menjadi tidak nyenyak dan sering terbangun. Tapi apa daya, kalau tidak segera bangun nanti telat dapat sunrise di puncak. Dan singkat cerita, mari kita mulai summit attack!!! 

Summit dimulai pukul 03.30 WIB dari Pos II. Dengan mengenakan jaket tebal anti air, mencangklong tas selempang kecil (yang berisi air minum, madu, minuman puncak, camdig, dll), headlamp yang melingkar di kepala, pakaian lapangan kaos  dan rok (ehh) sudah siap menuju ke puncak. Rute menuju ke Pos III merupakan jalur yang tidak terlalu terjal tapi cukup panjang. Untuk mencapai kesana diperlukan kehati-hatian dalam melangkah karena bisa jadi di sisi kanan atau kirimu adalah jurang, apalagi perjalanan ditempuh pada malam hari, harus super hati-hati. Sebelum menuju ke Pos III, kami melewati Pos Bayangan dan berhenti sejenak untuk beristirahat. Ketika sampai di Pos Bayangan, sudah terdengar sayup-sayup adzan Shubuh dari bawah, tetapi kami segera melanjutkan perjalanan menuju Pos III karena sudah hampir dekat. Jam 05.00 WIB kami sampai di Pos III dan langsung melaksanakan sholat Shubuh. Beristirahat sejenak sembari menunggu teman-teman lain yang belum sampai. Setelah mereka sudah naik sampai di Pos III, barulah kami beranjak untuk menuju ke pos selanjutnya, yaitu Pos IV. Nah, dari Pos III ke Pos IV ini jalanan mulai terjal, beberapa kali rok saya tersangkut di bebatuan atau batang pohon yang agak menjalar ke tanah — jadi harus agak cincing-cincing — begitulah. Jangan dikira mengenakan rok tidak bisa melakukan pendakian, tetap bisa kok, lebih berhati-hati saja. Mengenakan rok memang dapat mengurangi kelincahan, tetapi hanya sebesar 9% saja (rumus kira-kira, haha).

Perjalanan menuju Pos IV, matahari sudah mulai memerah muncul dari ufuk Timur, yak sunrise. Ya Allah, puncak masih begitu jauh tapi matahari sudah menyusul kami. Skak mat, kalah cepat. Baiklah, berarti harus cepat memacu langkah menuju ke Pos IV, tetapi kenapa langkah ini semakin berat dan jalan ini semakin terjal. Pukul 05.45 sampailah kami di Pos IV, Cokro Srengenge. Subhanallaah, ternyata belum sampai puncak  saja pemandangan pagi disini sudah tampak indah dan megah. Awan-awan putih benar-benar ada di bawah kami. Sembari beristirahat sejenak di Pos IV, mengembalikan energi secara cepat dengan menyuplai glukosa ke otak dengan madu stick bawaan wajib ketika menggunung -bukan iklan- 😀

madu stick aneka rasa semua suka
madu stick aneka rasa semua suka

Dari camp Cemoro Kandang menuju ke puncak (Hargo Dumilah) melewati simpangan Pos V, yaitu jalan yang juga menuju Hargo Dalem (warung Mbok Yem). Kalau Hargo Dumilah belok kanan, tapi kalau mau ke Hargo Dalem lurus saja. Menuju ke puncak bisa juga melewati Hargo Dalem, tetapi medan yang memutar membut pendakian menjadi lebih jauh dan lama. Eits, nilai plusnya bisa mampir ke warung Mbok Yem dulu, sekedar mengisi bahan bakar dan nyruput minuman yang hangat-hangat…siiip. Tetapi saya lebih memilih berbelok ke kanan untuk menyegerakan menuju puncaknya. Perjalanan menuju puncak Hargo Dumilah dari Pos V menjadi semakin terjal, medannya sudah bebatuan semua dengan ditumbuhi oleh beberapa tanaman tahan dingin. Semakin ke atas, kemiringan medan semakin menjadi. Tetapi ingat, bumi punya gaya gravitasi, terhadap tubuh kita sifatnya seperti magnet. Percaya saya tidak akan jatuh (dengan sedikit mendekatkan diri pada pijakan bebatuan, it’s ngesot time!). Voila!, dan sampailah saya pada puncaknya. Alhamdulillaah….

-tugu- Puncak Lawu Hargo Dumilah 3265 mdpl
Puncak Lawu 3265 mdpl
memanggil awan kinton
“awan kinton, datanglah” puk puk puk

Dan Kami hamparkan bumi itu dan Kami letakkan padanya gunung-gunung yang kokoh dan Kami tumbuhkan padanya segala macam tanaman yang indah dipandang mata (Qaaf: 7)

Pemandangan dari puncak sini begitu indah, didukung cuaca yang cerah, langit yang biru dan awan yang putih, seperti sedang berada dalam sebuah dongeng “negeri di atas awan”. Subhanallaah megah sekali ciptaan-Mu ya Rabb. Berada di puncak, duduk selonjor sembari menikmati sari kacang hijau dan dengan sedikit goresan pena adalah benar-benar me TIME!

tak lupa, minuman favorit puncak
tak lupa, minuman favorit puncak

Dan Dia-lah Tuhan yang membentangkan bumi dan menjadikan gunung-gunung dan sungai-sungai padanya. Dan menjadikan padanya semua buah-buahan berpasang-pasangan, Allah menutupkan malam kepada siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan. (Ar-Ra’d: 3)

Tidak begitu lama berada di puncak, kami pun kembali menuju ke bawah. Sebelumnya ada rencana ingin menyapa Warung Mbok Yem dahulu di Hargo Dalem, akan tetapi hari sudah mulai siang dan matahari sudah mulai meninggi. Apalagi jalan untuk menuju kesana tidaklah dekat, harus memutar terlebih dahulu. Sebelum jam 09.00 kami sudah meninggalkan Hargo Dumilah menuju camp kami di Pos II. Perjalanan turun, kami memilih track yang landai. Akan tetapi, sesekali kami mencoba track cukup ekstrim dengan kemiringan hampir mendekati 90 derajat. Mmm, semacam perpaduan begitu, agar perjalanan tidak membosankan 😀

Kami kembali menapaki jalan yang sama seperti ketika berangkat saat dini hari. Perbedaannya adalah pemandangan yang indah dapat terlihat ketika siang hari, sungguh mengagumkan sekaligus mendebarkan ketika melintasi jalan setapak yang dihiasi jurang di kanan atau di kiri lintasan. Siang hari yang terik, matahari yang menyengat semakin memperlama perjalanan turun. Ditambah adanya rombongan dari kelompok lain yang akan naik dan yang bersamaan turun sehingga memperpadat lintasan setapak. Mari, nikmati saja perjalanan ini. Tak lama kemudian, jam 13.00 sudah sampai camp di Pos II. Istirahat sebentar di dalam tenda, sholat. Eh, Alhamdulillaah ada yang menawarkan masakan sederhana tapi istimewa sebagai makan pagi+siang (rapel) dari teman yang tidak ikut ke puncak. Alhamdulillaah (elus-elus perut setelah kelaparan). Baiklah, setelah badan berenergi kembali, siap-siap mengemasi barang, meninggalkan camp untuk menuju ke posko. Kami meninggalkan camp Pos II pada pukul 15.00 WIB. Challange! Harus bisa sampai posko jam 16.00 WIB. Oke, challange accepted! Hoho. Bukan berlari, hanya sedikit mempercepat langkah, dengan track yang cukup licin, Alhamdulillaah sampai di Pos I pada pukul 15.25 WIB. Lumayan! Istirahat sebentar, letakan keril, menikmati sisa persediaan madu stick dalam tas, dan meneguk sedikit air untuk membasahi  kerongkongan dan menghilangkan rasa manis yang tersisa, kemudian tancap lagi menuruni bukit. Tantangan di track menurun ini masih sama, yaitu licin sehingga harus benar-benar hati-hati dalam menapak. Setengah perjalanan, jalan menjadi cukup padat karena ada rombongan yang sedang turun juga. Oke, slow sedikit. Tak lama kemudian, seperti sudah lama dari hutan rimba, kami menemukan hiruk pikuk perumahan, jalan raya dan beberapa warung. Alhamdulillaah, sampai juga di Posko. Istirahat.

Mengingat saya mengendarai motor seorang diri, otomatis tidak bisa pulang malam-malam, apalagi dari area perbukitan….cukup menyeramkan… sehingga pada pukul 17.00 WIB pamit kepada rombongan, izin pulang mendahului yang lain. Tak lupa mengucapkan terima kasih atas ajakan perjalanan dan penjagaan dari teman-teman. Semoga bisa bertemu lagi di agenda jalan-jalan yang lain :D.

Perjalanan pulang, menjelang maghrib harus berbasah diri karena hujan turun ketika masih di Kabupaten Karanganyar, tapi Alhamdulillaah perjalanan Surakarta-Yogyakarta cukup lancar. Sebelum sampai di rumah, menyempatkan mampir membeli obat-panas-tempel dan susu jahe. Nyamaaan.
———————————————————————————————–
Catatan Perjalanan
Pengeluaran:
1. Bensin 2 x @Rp 15.000,- (masih sisa) = Rp 30.000,- (Rp 6.500/liter)
2. Bekal makanan dan minuman dari Yogyakarta = Rp 50.000,-
3. Bakso bakar depan UNS 2 x Rp 1.000,- = Rp 2.000,-
4. Kopi beli di warung depan Posko (Sabtu) = Rp 3.000,-
5. Teh beli di warung depan Posko (Ahad) = Rp 2.000,-
6. Bakso pentol (sedikit sekali) = Rp 2.500,-
total : Rp 89.500,- (menurut saya cukup hemat) 😀

———————————————————————————————–
Special thanks to:
-Allah SWT atas penjagaan-Nya di siang dan malam
-Bapak-Ibu atas izinnya di tengah hiruk pikuk skripsi & H-10 pendadaran >_<
-Adekku, Peppy…sudah meminjamkan si Oranye untuk menemani perjalanan
-teman” @infogunung atas ajakannya, much, mbak beti yang mengayomi
-Dian yang sudah bersedia meminjamkan keril
-mas Almoe yang telah meminjamkan sleeping bag
-temen” Javenture yang telah mendoakan
-dan semua pihak terkait yang secara tidak langsung mendukung keberangkatan saya,
TERIMA KASIH

Advertisements

4 thoughts on “Berakhir Pekan di Atas Awan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s